Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

Tuesday, August 16, 2016

Untitled (?)

Kadang hidup tak seindah yang kau bayangkan, tak semenyenangkan seperti yang kau harapkan.
Di saat hidupmu tak sesuai dengan apa yang kau inginkan, kau mungkin ingin menutup mata, tak mengacuhkan segalanya, bahkan ingin lari dari kenyataan.
Tapi itu bukan solusi.
Apapun yang kau lakukan, menutup mata, tidak peduli, berusaha lari, kenyataan itu tak mungkin berubah jika itu memang takdirnya.
Semakin ingin dilupakan, malah semakin ingat..
Semakin ingin dihindari, malah tak dapat dihindari..
Semakin ingin tak dilihat, malah semakin sakit terasa..
Kemanapun kau berusaha pergi, kenyataan itu tetap disana.
Jika kau tak ingin terus terpenjara dalam rasa sakit yang tak terduga, kuncinya hanya satu, IKHLAS.
Satu kata enam huruf itu memang terasa mudah tuk diucapkan, namun terasa sulit tuk dilakukan.
Tetapi, sulit bukan berarti tak bisa dilakukan. Kau dapat menaklukkan semua rasa itu dan mengubahnya menjadi rasa ikhlas.
Jika kau ikhlas, itu berarti kau telah mampu menerima kenyataan yang selama ini kau hindari dengan sekuat tenaga.
Ikhlas..
Bagaimanapun, kau harus sadar bahwa kau tak berkuasa untuk mengubah kenyataan itu.
Kau sudah tahu jawabannya, itu keputusannya. Tugasmu hanyalah menerima segala keputusan dan kenyataan itu.
Percayalah akan hadir seseorang yang baik untukmu..
Langit mendung kan pergi..
Hujan kan berhenti dan terganti oleh indahnya pelangi..


-Bekasi, 12 Agustus 2016-

Wednesday, June 25, 2014

Yuk, Banyak-banyak Bersyukur!

          Libur kali ini gue isi dengan menonton beberapa film, mungkin ini terlihat useless dan wasting time. Tapi, beberapa film yang gue tonton selama 2 hari ini mengajarkan dan menyadarkan gue akan banyak hal. Pernah nonton 1 litre of tears? Ya, mungkin ini film lama, buat beberapa orang yang suka film bergenre action or thriller, mungkin ini akan jadi film yang membosankan. Tapi, film ini bener-bener menyentuh lubuk hati sanubari yang terdalam *halah mulai lebay* Film “1 litre of tears” menceritakan kehidupan seorang gadis yang mengalami penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit itu mengambil semua yang ia miliki, termasuk mimpi-mimpinya. Tapi, gadis itu tak pantang menyerah, ia terus berusaha untuk bisa hidup dengan baik dan berguna bagi orang lain meskipun banyak hal yang tak bisa ia lakukan. Film itulah yang menginspirasi gue untuk membuat tulisan ini.
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan versi yang berbeda-beda, ada yang cantik, cerdas, berbakat, dll namun adapula yang sebaliknya. Jika dilihat sekilas, Tuhan seperti tidak adil, menciptakan manusia yang terlahir normal dan baik fisiknya, namun Dia juga menciptakan manusia yang memiliki banyak kekurangan dan disabilitas. Tapi di sisi lain, seharusnya manusia mengerti bahwa semua yang dianugerahkan Tuhan padanya adalah hal yang terbaik untuknya. Allah knows best. Manusia seharusnya banyak-banyak bersyukur karena telah dianugerahkan berbagai hal padanya. Dilahirkan ke dunia saja merupakan sebuah anugerah, bisa melihat, bisa mendengar, bisa makan, bisa berjalan, bisa tinggal di rumah, semuanya adalah anugerah. Akankah anugerah itu di sia-sia kan begitu saja? Semuanya tergantung pada manusia itu sendiri.
Saat gue di usia SD, gue mulai menyadari banyak hal di diri gue yang berbeda dari orang lain. Berpikir mengenai semua perbedaan itu, membuat gue kurang percaya diri. I have a lot of weaknesses. Mungkin sebelumnya tak ada yang pernah tahu hal ini, tapi inilah yang gue rasakan. Gue bisa bersosialisasi, mengobrol dengan banyak orang, tapi sedikit demi sedikit gue mulai merasa orang-orang melihat diri gue dengan tatapan yang berbeda. Terkadang gue merasa beberapa ucapan dari mereka -yang mungkin mereka rasa itu hal yang biasa aja, tapi ternyata itu seperti pisau yang melukai hati gue. Sejujurnya secara tidak langsung, gue merasa diejek, dicemooh dan diremehkan. Mungkin gue terlalu sensitif, berulangkali gue memikirkan hal itu, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Gue hanya bisa tersenyum atau menghindar untuk tidak mendengar kata-kata itu. Semuanya gue simpan dalam hati, tapi lama-lama hati ini sesak dan akhirnya air mata itu tumpah. Di saat-saat itu, gue hanya bisa mengadu sama Allah. Seperti ada pergolakan batin dalam diri, gue memaki diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, dan yang gue tahu saat itu gue belum bisa menerima keadaan diri gue ini. Tapi semakin bertambah usia, gue merasa apa yang gue miliki di diri gue, ya itulah takdir gue. And physically, I can’t change it. Gue mulai menyadari, hal yang gue punya bukan hanya kekurangan, tapi Allah juga memberi gue kelebihan. Ya, gue masih punya kelebihan! Di luar dari itu semua, gue masih bisa belajar dengan baik, menerima pelajaran hingga mendapat nilai yang baik – yang tidak didapat oleh orang yang mencemooh gue itu. Allah masih memberi banyak anugerah buat gue, gue punya keluarga yang baik, punya rumah sebagai tempat tinggal, bisa sekolah, bisa makan teratur setiap hari, dll yang mungkin tidak semua orang bisa seperti itu. Bodoh banget kalau dulu gue tidak pernah bersyukur atas itu semua tapi malah memikirkan apa yang tidak ada dalam diri gue! Bodoh sebodoh bodohnya!!
Sekarang, ketika gue merasa kurang percaya diri karena kekurangan dalam diri, gue ingat kata-kata ini –yang entah darimana asalnya-
“Kalau kamu merasa kamu punya kekurangan, coba lihat ke bawah, masih ada orang-orang yang tidak seberuntung dirimu. Ketika kamu merasa dirimu tidak cantik atau tampan, coba lihatlah disana masih banyak orang yang tidak bisa melihat parasnya karena ia buta. Ketika kamu merasa hidup dalam kemiskinan, coba lihatlah disana masih banyak orang yang tidak punya tempat tinggal dan bahkan untuk makan sekali saja masih kesulitan. Ketika kamu merasa salah satu bagian tubuhmu tidak proporsional, cobalah lihat disana masih banyak orang disabilitas –tidak bisa berjalan, mendengar, melihat, dll. Ketika kamu merasa dirimu memiliki banyak kekurangan, tidak bisa hidup layaknya orang normal, coba pikirkanlah bahwa adanya dirimu di dunia merupakan sebuah anugerah yang seharusnya tidak di sia-sia kan. Tuhan pasti punya alasan mengapa kau dilahirkan ke dunia ini. Allah knows best. Bagaimanapun keadaan dirimu, banyak-banyaklah bersyukur.”
Seperti dalam Q.S Ibrahim : 7,
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Jadi, yuk kita perbanyak rasa syukur kita! Jangan mengeluh melulu and think positively ^_^

                                                          Salam penuh rasa syukur :D

Monday, August 5, 2013

Bahagia di SD Bahagia


            Pepatah mengatakan “Masa-masa SMA adalah masa yang paling indah”. Tapi menurutku “Masa-masa menuntut ilmu adalah masa yang paling indah”. Kenapa??? Karena di masa-masa itu aku bisa menemukan banyak teman dengan berbagai tingkah laku (mulai dari yang normal, setengah normal, seperempat normal, sedikit waras hingga yang abnormal, hihi).
            Di postingan kali ini aku akan sedikit membahas masa-masa SD-ku. Masa SD yang seru, gokil, nakal, cemerlang dan pastinya Bahagia. Yap sesuai dengan nama SD nya sendiri SD Bahagia, haha :D
            Masa SD adalah masa-masa liar dalam perjalanan sejarah hidupku. Dulu kami sering main keluar sekolah dan nongkrong di lapangan atau di rumah Puspita (Ita) dan hampir selalu telat kalau masuk kelas. Dulu kami itu masih main geng-geng an (anak SD banget ngga sih??). Aku satu geng sama Puspita (Ita) dia ini teman semeja-ku sejak kelas 2 sampe kelas 6 SD hebat ngga tuh! Then, ada Rizky Eka Putri alias Ekatel, kenapa dipanggil begitu?? Mungkin karena badannya yang imut kali yah? Next, ada Dewi Khoerunnisa yg biasa dipanggil Dewi atau nenek, dia memang anak baru tapi sudah sangat dekat dengan kami. Geng itu punya nama, tapi aku lupa namanya apa, leadernya itu si Ita. Kenapa?? Mungkin karena dia yang paling tua di antara kami.
            Waktu SD itu kami (re: aku) iseng banget. Mulai dari mengempeskan ban sepeda teman (terutama sepedanya anak-anak cowok yang menurut kami menyebalkan) sampai mengikat tali tas mereka. Pernah juga tali tasku diikat - ikat ke bangku sampai harus digunting supaya bisa lepas dari bangku (-__-) Kami (aku & teman-teman) juga pernah perang permen karet dengan teman-temanku yang cowok + membuang tas mereka ke tong sampah, wkwk bandel banget kan?! Tapi karena hal-hal itulah sampai sekarang kami masih berhubungan satu sama lain (walau ngga semuanya).
            Permainan yang paling sering kami mainkan sewaktu SD adalah main karet, maksudnya permainan dengan melompati tali yang dirangkai dari karet. Aku sering main itu (dulu), awalnya sih nggak jago tapi lama-lama jadi terbiasa. Mungkin permainan itu jadi salah satu alasan kenapa aku bisa setinggi ini sekarang (.___.  ) Selain main karet, kami juga suka main bola bekel dan congklak.
            Oiya dulu itu jarang banget anak SD yang punya handphone, smartphone apalagi ipad seperti sekarang. Dulu itu mainannya masih surat-suratan dan telpon-telponan lewat wartel atau telepon rumah *Aaah jadi inget sesuatu.. Dulu kendaraan yang kami pake itu cuma sepeda dan tempat main atau tongkrongan favorit adalah Marakash *itu loh salah satu tempat perbelanjaan di Candrabaga* Heran aja kenapa tempat belanja itu bisa jadi tempat tongkrongan favorit, padahal kalo kesana juga kami ngga pernah beli apa-apa (.__.  )/|
            Waktu SD banyak momen-momen yang mendekatkan kami (aku & temen” SD satu angkatan) dengan guru-guru. Dulu itu ada lomba senam (lupa nama senamnya apa) dan hampir setiap pulang sekolah kami selalu latihan sama Pak Irham. Pernah juga kami ikut lomba pramuka *yang kemah-kemah itu* di Taman Kebalen. Waktu itu sempet kasihan sama Ita yang jadi ketua kelompok pramuka yg putri, dia berangkat dengan suara yang masih normal dan pulang tanpa suara karena kelelahan.
Masa SD itu bagaikan masa-masa LFT (Looking For Trophy) dimana itu menjadi salah satu masa ke-produktif-an dalam sejarah hidupku. Banyak lomba yang kuikuti sejak aku masuk ke SD Bahagia, entah itu lomba calistung, siswa berprestasi, lomba senam, lomba pramuka bahkan lomba mipa –bukan bermaksud sombong atau semacamnya yaa, hanya merapikan kenangan- .
            Sejak SMP kelas 2 atau 3, setiap bulan Ramadhan kami selalu mengadakan buka puasa bersama di salah satu rumah, biasanya ya di rumahnya Ita karena rumahnya yang paling dekat dengan SD kami yang lama. Pernah suatu ketika bukbernya diadakan di salah satu ruangan di SD kami, cukup seru, lumayan banyak yang datang walaupun makanannya agak kurang memuaskan. Dan yang membuatku bingung, hampir di tiap acara bukber itu aku selalu jadi salah satu panitianya. Tapi dengan adanya acara bukber itu tali silaturahmi kami tetap terjaga sampai sekarang (^.^)
Semua kenangan tentang SD itu menggoreskan kesan yang indah. Aku bahagia karena diberi kesempatan bersekolah di SD yang Bahagia. Apalagi bertemu dengan teman-teman dan guru-guru yang membuat kehidupanku lebih berwarna. Kami dipertemukan dan dipisahkan oleh takdir, dan tentunya takdir pula yang akan mempertemukan ketika masing-masing dari kami telah menemukan kesuksesannya :’)

Thursday, July 25, 2013

Kau membuatku membencimu


Terkadang aku membencimu..
Ya, benci karena kau tak membiarkanku melihat kelemahanmu hingga aku tak jatuh terlalu dalam lagi.
Benci karena aku hanya bisa melihat kelebihanmu.
Benci karena kau terlihat besar di mataku *Mungkinkah penglihatanku ini telah salah?
Benci karena kau hanya membiarkanku menatapmu lewat dunia maya tanpa tahu paras aslimu seperti apa.
Benci ketika waktu tak berpihak padaku.
Benci ketika kesempatan itu belum tiba.
Benci ketika butir-butir harapan itu muncul.
Dan benci karena aku terlambat mengenalmu..

Sunday, June 30, 2013

Kenangan


Malam ini membuka buku tahunan SMA, membuat kenangan – kenangan itu berhamburan keluar. Andaikan aku bisa membuat diksi yang baik, tentu aku akan mengungkapkan kenangan itu dengan diksi yang terbaik. Kenangan tentang sahabat, teman, guru-guru, bagaimana dulu aku bersekolah, momen-momen indah bahkan cinta. Ya cinta dan semuanya, kenangan yang sangat manis.
Aku tak bermaksud apa-apa, tulisan ini hanya untuk mengenang. Mengenang kisah yang belum ada akhirnya dan mungkin masih berlanjut hingga saat ini.
Kisah itu bermula disini, ketika seorang jendral datang, sebenarnya bukan ia yang datang, bukan juga aku. Tapi waktu yang membawa kita bertemu. I had been looking to jendral for 3 years. Sebegitu lamanya ia menempati peran utama dalam setiap bagian hariku. Semuanya tersembunyi, tapi yang tersembunyi itu indah dan manis juga berharga.
Semuanya berlanjut hingga sang bintang datang, lagi-lagi bukan ia yang datang, bukan juga aku. Tapi waktu yang mempertemukan kami di sebuah ruangan suci berukuran 3x4 meter --mungkin lebih sempit dari itu – Pertemuan yang terus berlanjut hingga aku merasa ia mulai bersinar sangat terang dan membuatku ingin menggapainya. Tapi tak semudah membalikkan telapak tangan atau mengeluarkan gas H2S dari dalam perutmu, ia sangat sulit dijangkau sangat jauh dan karena sinarnya yang begitu terang dia tak benar-benar dapat melihatku.
Seperti yang kutulis di awal, tulisan ini hanya untuk mengenang. Rasa manis, asam, asin bahkan pahit sekali pun pernah kurasakan. Tapi aku senang bisa bertemu dengan orang-orang yang telah membuat hidupku bermakna dan indah berwarna layaknya pelangi.

Sunday, June 9, 2013

Pesan Sang Pengagum

Hari ini senja datang diiringi oleh rintik hujan, gemuruh-gemuruh yang bersahutan seakan menyuarakan gejolak di dalam hatiku. Hatiku mengatakan bahwa aku mengagumimu, kau telah menjadi bagian dari inspirasiku.
Kita berada di satu lingkungan yang sama namun aku tak pernah bertemu langsung denganmu. Aku hanya bisa menerka-nerka apakah orang yang kulihat itu benar dirimu atau bukan. Hanya melalui tulisan-tulisanmu, aku mengenalmu. Lewat tulisan-tulisan itu pula aku mengagumimu.
Layaknya seorang pengagum, aku mencari-cari informasi tentangmu di mesin pencari –yang katanya nomor satu di dunia itu-, maaf jika aku melakukan hal bodoh seperti itu. Andai kau tahu, wajahmu sempat menghiasi sebagian isi otakku disaat aku sedang ujian praktikum. Aneh memang, terlebih aku hanya melihatmu melalui gambar-gambar digital yang ada di media-media pertemanan dunia maya.
Satu pesanku untukmu “Teruslah berkarya, berprestasi, mengabdi dan tetaplah menjadi inspirasiku”.
                                                            
                                                                   Salam hangat dari pengagummu

Monday, January 28, 2013

Aku dan Kau


Mengantarkan adikku ke sekolah, membawa berbagai kenangan itu kembali padaku. Jalan menuju sekolah yang pernah kita lewati dulu, kini telah bagus. Program pemerintah untuk menghaluskan jalan telah terealisasi. Entah terealisasi karena tuntunan masyarakat, merasa itu kewajiban pemerintah, atau sebagai ajang promosi menuju pilkada, entahlah.
Melalui jalan itu, mengingatkanku ketika dulu temanmu pernah terjatuh ke lubang disaat hujan. Kini, aku tak menemukan lubang itu. Dulu, aku tertawa di belakangmu ketika kulihat temanmu yang berjalan di sampingmu itu jatuh. Begitu pula dirimu, aah senangnya melihat tawamu saat itu.
Mendengar adikku menyebutkan nama guru itu, mengingatkanku ketika dulu beliau pernah memegang pundak kita disaat para pengurus kelas berbaris di lapangan. Saat itu kau berbaris tepat disampingku, dan... aku merasa sangat dekat denganmu.
Melihat bangunan di samping mushola itu, mengingatkanku ketika pertama kali aku melihatmu bermain bola di lapangan dekat sana. Bangunan itu kini menghalangi pandanganku untuk melihat lapangan tempat kau dulu pernah bermain bola disana.
Mendengar lagu “Hujan” milik Utopia, mengingatkanku saat kita istirahat bimbel dan hujan turun. Aku hanya bisa mencuri pandang melihatmu mengobrol dengan teman-temanmu. Hujan juga mengingatkanku ketika dulu kita pernah bermain hujan saat pulang sekolah. Kau dan temanmu berjalan di depanku dan aku beserta temanku berjalan agak jauh dibelakangmu. Senangnya bisa mendapat kesempatan lebih lama untuk bisa melihatmu.
Mungkin, lagu “Pemuja Rahasia” milik Sheila on7 cocok untukku saat itu. Bagiku kau begitu mudah untuk kukagumi. Kau memang tampan, tapi..ketampanan itu relatif dan masih banyak orang yang lebih tampan darimu. Keahlianmu bermain bola biasa saja, tak terlalu menonjol dan juga tak sangat rendah. Begitu pula dengan prestasi sekolahmu. Kau pun bukan tipe orang yang bisa dikagumi dari segi akhlak yang agamis. Aku juga tak pernah benar-benar dekat dan menjadi temanmu, mungkin kau dan aku hanya kenal nama. Tapi anehnya, mengapa hatiku merasakan getaran cetarrr halilintar membahana ketika bertemu denganmu? Dan mengapa dadaku berbunyi dag dig dug seperti ketika akan menghadapi ujian saat dekat denganmu?
     Berjuta-juta kejadian terus hadir namun kenangan-kenangan itu masih tersimpan indah di otakku, mungkin hanya aku sendiri yang menyimpan ingatan itu. Aaaah....sudahlah.


Back
to top