Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Sunday, October 12, 2014

Bekasi Salah Apa?

           Halooo... selamat siang kawula muda *ngomong gaya Dodit*
           Siang terik begini gue pengen cerita tentang sebuah daerah yang lagi hitz banget di medsos. Tau kan? Yap, Bekasi. Awalnya gue bingung kenapa nama Bekasi sering disebut-sebut di medsos, diledekin. Awalnya gue nggak tau apa-apa, serius ._.v Katanya banyak yang bikin meme tentang Bekasi. Yaudah lah gue cari meme comicnya dan gue temukan ini

Selain nyari meme Bekasi itu, gue juga coba baca sebuah artikel di bekasiurbancity.com yang ngebahas asal mula bekasi jadi bahan bully-an di medsos. Katanya Bekasi itu panas, Bekasi itu jauh. Bener sih, di Bekasi itu emang panas banget kalo siang. Tapi ya namanya siang hari, matahari lagi bersinar dengan teriknya, tempat mana sih yang nggak panas? Jakarta juga panas kok, Depok juga (meskipun nggak sepanas di Bekasi).

Wednesday, June 25, 2014

Yuk, Banyak-banyak Bersyukur!

          Libur kali ini gue isi dengan menonton beberapa film, mungkin ini terlihat useless dan wasting time. Tapi, beberapa film yang gue tonton selama 2 hari ini mengajarkan dan menyadarkan gue akan banyak hal. Pernah nonton 1 litre of tears? Ya, mungkin ini film lama, buat beberapa orang yang suka film bergenre action or thriller, mungkin ini akan jadi film yang membosankan. Tapi, film ini bener-bener menyentuh lubuk hati sanubari yang terdalam *halah mulai lebay* Film “1 litre of tears” menceritakan kehidupan seorang gadis yang mengalami penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit itu mengambil semua yang ia miliki, termasuk mimpi-mimpinya. Tapi, gadis itu tak pantang menyerah, ia terus berusaha untuk bisa hidup dengan baik dan berguna bagi orang lain meskipun banyak hal yang tak bisa ia lakukan. Film itulah yang menginspirasi gue untuk membuat tulisan ini.
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan versi yang berbeda-beda, ada yang cantik, cerdas, berbakat, dll namun adapula yang sebaliknya. Jika dilihat sekilas, Tuhan seperti tidak adil, menciptakan manusia yang terlahir normal dan baik fisiknya, namun Dia juga menciptakan manusia yang memiliki banyak kekurangan dan disabilitas. Tapi di sisi lain, seharusnya manusia mengerti bahwa semua yang dianugerahkan Tuhan padanya adalah hal yang terbaik untuknya. Allah knows best. Manusia seharusnya banyak-banyak bersyukur karena telah dianugerahkan berbagai hal padanya. Dilahirkan ke dunia saja merupakan sebuah anugerah, bisa melihat, bisa mendengar, bisa makan, bisa berjalan, bisa tinggal di rumah, semuanya adalah anugerah. Akankah anugerah itu di sia-sia kan begitu saja? Semuanya tergantung pada manusia itu sendiri.
Saat gue di usia SD, gue mulai menyadari banyak hal di diri gue yang berbeda dari orang lain. Berpikir mengenai semua perbedaan itu, membuat gue kurang percaya diri. I have a lot of weaknesses. Mungkin sebelumnya tak ada yang pernah tahu hal ini, tapi inilah yang gue rasakan. Gue bisa bersosialisasi, mengobrol dengan banyak orang, tapi sedikit demi sedikit gue mulai merasa orang-orang melihat diri gue dengan tatapan yang berbeda. Terkadang gue merasa beberapa ucapan dari mereka -yang mungkin mereka rasa itu hal yang biasa aja, tapi ternyata itu seperti pisau yang melukai hati gue. Sejujurnya secara tidak langsung, gue merasa diejek, dicemooh dan diremehkan. Mungkin gue terlalu sensitif, berulangkali gue memikirkan hal itu, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Gue hanya bisa tersenyum atau menghindar untuk tidak mendengar kata-kata itu. Semuanya gue simpan dalam hati, tapi lama-lama hati ini sesak dan akhirnya air mata itu tumpah. Di saat-saat itu, gue hanya bisa mengadu sama Allah. Seperti ada pergolakan batin dalam diri, gue memaki diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, dan yang gue tahu saat itu gue belum bisa menerima keadaan diri gue ini. Tapi semakin bertambah usia, gue merasa apa yang gue miliki di diri gue, ya itulah takdir gue. And physically, I can’t change it. Gue mulai menyadari, hal yang gue punya bukan hanya kekurangan, tapi Allah juga memberi gue kelebihan. Ya, gue masih punya kelebihan! Di luar dari itu semua, gue masih bisa belajar dengan baik, menerima pelajaran hingga mendapat nilai yang baik – yang tidak didapat oleh orang yang mencemooh gue itu. Allah masih memberi banyak anugerah buat gue, gue punya keluarga yang baik, punya rumah sebagai tempat tinggal, bisa sekolah, bisa makan teratur setiap hari, dll yang mungkin tidak semua orang bisa seperti itu. Bodoh banget kalau dulu gue tidak pernah bersyukur atas itu semua tapi malah memikirkan apa yang tidak ada dalam diri gue! Bodoh sebodoh bodohnya!!
Sekarang, ketika gue merasa kurang percaya diri karena kekurangan dalam diri, gue ingat kata-kata ini –yang entah darimana asalnya-
“Kalau kamu merasa kamu punya kekurangan, coba lihat ke bawah, masih ada orang-orang yang tidak seberuntung dirimu. Ketika kamu merasa dirimu tidak cantik atau tampan, coba lihatlah disana masih banyak orang yang tidak bisa melihat parasnya karena ia buta. Ketika kamu merasa hidup dalam kemiskinan, coba lihatlah disana masih banyak orang yang tidak punya tempat tinggal dan bahkan untuk makan sekali saja masih kesulitan. Ketika kamu merasa salah satu bagian tubuhmu tidak proporsional, cobalah lihat disana masih banyak orang disabilitas –tidak bisa berjalan, mendengar, melihat, dll. Ketika kamu merasa dirimu memiliki banyak kekurangan, tidak bisa hidup layaknya orang normal, coba pikirkanlah bahwa adanya dirimu di dunia merupakan sebuah anugerah yang seharusnya tidak di sia-sia kan. Tuhan pasti punya alasan mengapa kau dilahirkan ke dunia ini. Allah knows best. Bagaimanapun keadaan dirimu, banyak-banyaklah bersyukur.”
Seperti dalam Q.S Ibrahim : 7,
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Jadi, yuk kita perbanyak rasa syukur kita! Jangan mengeluh melulu and think positively ^_^

                                                          Salam penuh rasa syukur :D

Tuesday, May 6, 2014

Uli, Si Ulat Kecil part 1

                

            Dikisahkan di suatu taman bunga hiduplah seekor ulat kecil, panggil saja ia Uli. Uli sedikit berbeda dengan teman-temannya. Uli masih seekor ulat padahal teman-temannya  sudah banyak yang berubah menjadi kepompong dan sedang menantikan perubahan wujud menjadi kupu-kupu. Beberapa teman lain bahkan sudah menjadi kupu-kupu. Uli melewatkan satu periode dalam hidupnya, ketika teman-teman yang lain sedang giat makan agar cepat menjadi kepompong, Uli terdiam tak berdaya karena terkendala oleh satu dan lain hal. Uli menganggap itu adalah masa kelamnya. Ketika teman–teman yang lain sudah menjadi kepompong, Uli masih berusaha untuk menjadi kepompong.
            Taman bunga tempat tinggal Uli dan teman-temannya adalah taman bunga yang istimewa. Beragam perayaan diadakan disana, seperti perayaan musim semi, perayaan panen polen, hingga perayaan musim gugur. Ketika teman-temannya yang telah menjadi kupu-kupu sibuk dengan berbagai perayaan di taman bunga itu, Uli selalu ingin bergabung dan membantu mereka. Tapi sayang, Uli yang hanya seekor ulat kecil, tak punya kekuatan dan keistimewaan lebih seperti teman-temannya. Teman-teman kupu-kupunya tak percaya akan kemampuan Uli, hingga ia tak diperbolehkan ikut campur secara langsung pada berbagai perayaan itu. Akhirnya, ia hanya membantu sebisanya. Dikala yang lain mengatur ini dan itu, Uli hanya bisa mengangkut beberapa barang untuk perayaan. Uli tak keberatan dengan itu semua, ia sadar dirinya hanya seekor ulat kecil biasa.
            Hari berganti hari, lambat laun Uli merasa asing di taman bunga itu, ia merasa sangat sangat kecil di hadapan kupu-kupu lain. Sedikit lagi ia akan menjadi kepompong, tapi ia merasa mulai terabaikan oleh yang lain. Dalam hatinya berkata, “Mungkinkah aku tak terlihat? Apakah mereka tak bisa merubah pandangannya akan diriku? Kapankah mereka akan percaya pada kemampuanku?”. Uli hanya bisa terus berusaha untuk menjadi versi terbaik dari dirinya hingga nanti saatnya ia bisa menjadi kupu - kupu seperti teman-temannya.
Back
to top